Sunday, February 19, 2012

TANDA ADANYA KEMUNGKINAN LEBIH

BAGIAN I

TANDA ADANYA 
KEMUNGKINAN LEBIH
Hidup itu sendiri adalah kejutan besar. aku tidak melihat 
kenapa kematian bisa jaid kejutan yang lebih basar. 
- Vladimir Nabokov, Pale Fire

Di pertengahan tahun 1980-an, dua teman baikku dan seorang klien meninggal dunia. Mereka tidak saling kenal dan sama asingnya dengan tiga orang lainnya di dunia. Namun meski demikian, dalam beberapa hal pengalaman mereka dan pengalaman saya di ranjang kematian mereka, membentuk sebuah keseluruhan yang sempurna. Teman saya Henry meninggal dalam damai, menghadap ke mata-mata yang tak terelakkan lagi terbuka, memberikan ketenangan kepada teman-temannya saelagi ia masuk ke dalam hubungan yang sama dekat dengan kematian yang ia ciptakan. Teman James meninggal dalam kesengsaraan, rasa takut dan bingung, mengasingkan sebagian besar teman yang sayang kepadamya, dan mengepalkan segepok uang di dadanya saeolah hanya itulah satu-satunya alat untuk menyelamatkan dirinya dari sesuatu asing yang jahat. Klien saya Joanne butuh ide-ide yang saat itu terus datang menguasai saya.
         Saya ada di saat kematian itu datang. Saya berubah karenanya, dan lama merenungi perjalanan dan gambaran ini, keriangan, kesedihan, ketakutan dan mesteri yang muncul dalam diri saya di saat saya di sisi ranjang. Seringkali dalam tahun-tahun berikutnya, dalam hidup saya baik sebagai psikoterapis yang bekerja dengan pasien sekarat dan kehidupan pribadi saya, saya merasa bersyukur atas pengalaman ini. Kini saya bergelut dalam pekerjaan yang menjelaskan kepercayaan, gambaran, dan fungsi alam baka dalam kebudayaan di dunia. Tiga orang ini membawa saya mendekat ke ambang batas ini.

MENGHADAPI KENYATAAN : TIGA
PANDANGAN

Henry
         Di usia 45, Henry menerima berita bahwa penyakit kangker yang baru diketahui bersarang di tubuhnya adalah sesuatu yang tak dapat disembuhkan. Berita ini membuatnya bungkam selama berhari-hari. Kediaman yang membenamkan kenyataan. Ia sedih, tidak biasanya ia diam, dan ia menjauhkan diri dari teman-teman dan keluarganya selama lebih dari dua minggu sementara ia berkonsultasi dengan ahli fisika dan penyembuh dari berbagai asal. Semua yang ia temui memastikan diagnosa yang mematikan itu. mungkin secara naluriah, ia tahu bahwa untuk kenyataan adalah dengan menambah sakit yang tak terelakkan dan kesedihan untuk mengetahui dirinya sudah di ambang kematian. Namun yang membuatnya tenang untuk menerima kenyataan dalah fakta bahwa Henry percaya ada sesuatu yang lebih di sana untuknya.
    Selama masa-masa ia menjauh, Henry menyetel pesan di mesin pejawabnya seperti ini : "Jangan menelepon kecuali kalau memang benar-benar ingn meneleponku. Jangan menelepon untuk memberitahukan segala macam penyembuhan yang kau tahu. Aku sudah memcobanya semua. Jangan menelepon untuk memberitahukan segala prosedur yang menurutmu akan berhasil. Aku sudah meneliti semua. Jangan meneleponku kalau kau menganggap diriku seperti almarhum ayahmu, abangmu, ibumu, temanmu atau siapa pun, dan jangan menelepon untuk menangis kemudian berkata kau rindu aku. Telepon aku kalau kau memang bisa mendampingiku, dan kalau tidak bisa, tak apa. Salam cinta dariku."
     Saya langsung menelepon Henry di saluran pribadinya. "Oh, Hank," sapaku, menggunakan nama kecilnya. "Maafkan aku."
        "Tidakkah kau dengar pesanku?" tanyanya dengan nada kesal.
Saya tidak pernah mendengar Henry begitu kesal, namun saya bisa mengerti hal itu akan terjadi.
        "Aku dapat pesanmu, tapi waktu temanku yang lain meninggal, aku tahu tentang......."
        Henry langsung memotongku.
        "Jangan Sukie. Telepon aku untuk berbincang kepadaku. Jangan membincangkan orang lain."
        "Dengar! Ini bisa menolongmu!" aku memohon.
        "Sukie, aku sekarat. Aku cuma punya enam bulan. Stop," balasnya.
      Aku berhenti bicara. Namun aku tak tahan untuk bisa bersamanya secara fisik, kalau ia tidak mau "consoling", dan bila saya tidak bisa menawarkan informasi, tidak ada yang bisa saya katakan. Saya mulai menangis. Henry menutup telepon. Ini adalah perjalanannya, kematiannya, pemahamannya akan perjalanan manusia.
        Tapi aku tidak bisa berhenti meneleponnya. Bayangan bahwa saya tidak akan berhubungan lagi dengan pria ini jelas tidak bisa diterima oleh saya. Saya akan membiarkan hal itu terjadi. saya meneleponnya tiap hari. Setelah saya menuangkan kopi pagi saya dan menyalahkan rokok terbaik hari itu, saya menarik telepon ke sofa, memastikan bahwa vas bunga diletakkan di depan pandangan saya untuk menenangkan saya, dan saya pun memutar nomor. Henry selalu bangun pagi atau tidak tidur sama sekali, saya tidak pernah tahupasti yang mana yang dilakukannya, dan setiap hubungan telepon membuat kami masing-masing terdiam dan menunggu : hati-hati, waspada.
        "Jadi bagaimana keadaamu?" tanya saya sesegera setelah ia menyahut. Nada saya ringan, biasa, seolah ini adalah telepon yang biasa diterimanya tiap hari.
        "Lebih baik," sahutnya, memperlihatkan senyum di nada suaranya. "Aku hanya sedang berpikir, kalau di usia 20-an aku tahu aku akan mati sekarang, semua hal menyengsarakan yang kualami di waktu aku 20-an - ingat? -bisa-bisa jadi kritis pertengahan hidup!"
         Saya mulai tertawa. Lucu juga. Benar-benar lucu dan tajam. Apa yang ia katakan memang benar dan di katakannya dengan cara yang gila, cerdas manis. Ia sama sekali tidak menghindari fakta bahwa ia sekarat. Kenyataan ada di sana, namun dikemas dalam sesuatu yang lucu yang membawa kelegaan dan pengakuan akan kenyataan. Bukan seorang pria dengan sistem kepercayaan yang ketat yang diwariskan dari orang tuanya, Henry telah mengembangkan saendiri filosofinya akan alam, maknanya dan arah evolusinya. Filosofinya adalah sebuah pandangan yang tidak asing untuk banyak orang di tahun 90-an. Kombinasi Kristen, Budha. dan aliran New Age. Henry mendukung model pengembangan alam di mana kenyataan terus berkembang menuju level lebih tinggi dari kesadaran.
       Henry sudah lama percaya peningkatan ini dan pada suatu level tertentu, ia merasa menjadi bagian darinya. Saat dokternya dan yang lain-lain mengatakan kepadanya dengan sedih bahwa tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuknya, apa yang terpikir oleh Henry, melalui rasa shock dan kesedihanya, sepertinya yang ia ceritakan kepadaku setelah itu, adalah pemahaman bahwa tubuhnya tidak lagi mengalami perkembangandan itulah saat baginya bergerak maju ke level lain dari kesadarannya. Henry merenungi apa yang ada di depan dan menyimpulkan bahwa dengan suatu cara tertentu ia sudah terpilih, atau ditujuk, untuk berjalan terus, dan ada makna dalam kematian pribadinya.
        Menjelang kematiannya, keluarga Henry mendampinginya untuk menyaksikan kekuatan tak terelakkannya dan memberinya kenyamanan dan ketenangan. Di detik-detik kematiannya, Henry membuka matanya dan berkata dengan susah-payah, "Oh, aku masih disini ya?" Ketika ia diberitahu keadaanya, ia menanggapi dengan suara yang sangat lemah, "Tempat yang kutuju sanhalah indah."

No comments:

Post a Comment

Enter your email address

Jika Sobat menyukai artikel Blog ini, masukan alamat email Sobat untuk mendapatkan posting terbaru dari saya langsung ke email sobat.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Penghasilan Saya Rp 28 Juta/bulan, Modal 105.000, Gabung Sekarang juga!
Mau Sukses Bisnis Online di Internet? Harus tau caranya. Segera gabung disini...

Please Bantu Saya, Like This !!!

×

Powered By Blogger Widget and Get This Widget