Wednesday, February 8, 2012

Alice in Wonderland

Curiouser, curiouser. Ya, Alice in Wonderland yang sebenarnya dulu belum pernah novelnya gue baca secara sempurna meski punya hard kopi dan soft kopi nya, film kartunnya belum sempat ditonton meski sudah masuk rotasi ruang santai, dan memang feature-feature menarik yang mempengaruhi banyak sekali film. Semua itu bikin gue curious akan film ini. Tapi hanya satu kata yang dapat menggambarkan Alice in Wonderland setelah gue menontonnya.
Hollow. Ya, kosong. Entah mungkin film ini bukan tipe film gue, tapi notabene film-film yang gue bilang bagus adalah film yang bisa membawa gue nonton sampe akhir dan merasa berbeda setelah keluar dari bioskop. Alice in Wonderland mendapat rekomendasi tinggi dari beberapa temen yang memang biasanya seleranya sama, more or less, meski gue sendiri lebih jarang nonton film disbanding mereka. Tapi dengan ekspektasi yang tinggi akan cerita-cerita dan fantasi yang aneh, Alice in Wonderland ternyata tidak sanggup menggapai ekspektasi yang udah gue bikin.
Alice in Wonderland arahan Tim Burton ini menceritakan kembalinya Alice (Mia Wasikowska) yang sudah dewasa ke wonderland, (yang entah kenapa jadinya underland?) setelah sebelumnya dilamar oleh seorang lord yang kaya di dunia nyata dan kabur dari menjawab. Di underland dia bertemu Mad Hatter (Johnny Depp) dan koleganya untuk bersatu melawan Red Queen (Helena Bonham Carter) dan ajudannya Stayne (Crispon Glover) di hari Frabjous, dimana di hari itu Red Queen dan White Queen (Anne Hathaway) akan bertarung untuk memperebutkan tahta di underland.
Where should I start? Alice di film ini terlihat seperti cewek bodoh yang linglung dan berjalan kesana-kemari hanya sesuai hati. Mungkin gue ga baca novelnya dan gatau sebenernya Alice seperti apa. Mudah-mudahan ternyata memang dalam novel pun karakter Alice seperti itu. Namun sejak awal seperti banyak sekali keanehan pada si Alice ini. Tapi sekali lagi mungkin karena karakterisasi dari Tim Burton memang seperti itu, Alice cenderung bukan seperti seorang Alice yang wondrous, tapi betul-betul underous (bahkan underous sama sekali bukan sebuah kata). Dimana sepanjang film dia akan terlihat murung, meskipun sebenarnya dia lagi senang.
Johnny Depp, lebih-lebih lagi, tidak tergambar karakter ekstrim dari kata MAD hatter. Dalam film ini justru lebih cenderung seperti SAD hatter. Tidak kurang dan tidak lebih. Tapi sekali lagi mungkin memang seperti itulah karakterisasi oleh Tim Burton. Mari lupakan Anne Hathaway yang memerankan White Queen yang gemulai. Selain perannya memang sedikit, karakternya justru terlalu kuat sebagai ratu yang terlalu lemah lembut meski memegang teguh satu janji.
Sebaliknya, Helena Carter memerankan Red Queen’s “Off with their heads”! Dengan sangat menarik. Meski jujur gue agak terganggu dengan inproporsional dan bluffing nya agak sedikit terlihat di awal film. Tapi diluar itu semua, aktingnya luar biasa dan perannya dapat. She’s so high of herself and her ego. Yang dengan bodohnya hubungannya dengan Stayne berakhir aneh akibat ulahnya sendiri. Orang-orang aneh di sekitar Red Queen pun cukup meyakinkan dan selalu ada meski hanya sekilas. Namun seperti tertekankan bahwa itu juga termasuk inti dari cerita ini.
Ceritanya punya twist yang cukup aneh, dimana twist-twist tersebut tidak dibuat sebagai twist. Seperti ketika Alice bertemu Red Queen pertama kalinya, dan adegan perang di Frabjous Day. Meskipun begitu, cerita Alice ini memang berbeda dari novelnya ataupun animasi sebelumnya, baik Alice in Wonderland maupun Through the Looking Glass, karena memang screenplay dan cerita ini diadaptasi oleh Linda Woolverton dari cerita originalnya Lewis Carroll. Tapi meski belum pernah membaca atau menonton cerita aslinya, sedikit-sedikit akan tahu ini siapa dan kenapanya, karena memang ada sedikit flashback-flashback.
Tapi tetap, Tim Burton memang raja dalam exploitasi makeup. Makeup dalam film ini luarbiasa, meski (tetap) makeup White Queen ga enak dilihat, tapi tetap menguatkan karakter di film ini. Dan dari situ malah memang menguatkan karakterisasi yang memang dibuat oleh Tim Burton disini, seperti Alice yang underous tadi dan sad Hatter.
Overall, Alice in Wonderland tetap menjadi film yang layak tonton. Meski mungkin akan terasa sedikit kosong dan hanya oh ya oh ya setelah menonton, masih memungkinkan anda akan suka film ini. Bergantung dari tipe film seperti apa yang anda suka. Tapi percayalah, when Tim Burton meets Alice, it would be the Frabjous day without Jabberwocky or Vorpal sword either. We won’t know who wins. So, watch it!

1 comment:

  1. Olá amigo, abraços do Brasil, adorei esse filme, já passou por aqui!

    ReplyDelete

Enter your email address

Jika Sobat menyukai artikel Blog ini, masukan alamat email Sobat untuk mendapatkan posting terbaru dari saya langsung ke email sobat.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Penghasilan Saya Rp 28 Juta/bulan, Modal 105.000, Gabung Sekarang juga!
Mau Sukses Bisnis Online di Internet? Harus tau caranya. Segera gabung disini...
Share Up To 110 % - 10% Affiliate Program

Please Bantu Saya, Like This !!!

×

Powered By Blogger Widget and Get This Widget