Thursday, May 28, 2015

Nauraku Maafkanlah

Nora, dialah anak saudagar terkaya di kota ini, beruntung sekali pria yang dapat meminangnya, karena pasti kekayaan ayahnya akan diwariskan padanya, tapi harapan itu begitu jauh bagi Jimi, seorang petualang yang tak pernah tinggal lebih dari satu minggu di satu kota, dahulu dirinya hanyalah seorang penggembala hewan ternak di kota yang jauh, sampai pada suatu hari ia bermimpi bahwa ia akan menjadi seorang pedagang yang hebat, dan mulai saat itu ia menjual seluruh hewan ternaknya dan membeli barang-barang yang bisa ia jual kembali di kota lain dari kota lain.
Sudah sering Jimi mengunjungi kota ini, sering pula ia melihat Nora dari balik jendela rumahnya bak istana, tidak hanya sekedar melihat, Jimi sesungguhnya memendam rasa, tapi pikirannya selalu berusaha membuat padam api yang menghangatkan hatinya itu, ia hanya bisa tersenyum dari jauh ketika Nora mengetahui apa yang dilakukannya, begitupun sebaliknya.
Ia tak pernah berani untuk berbicara pada Nora sampai pada suatu hari Nora mendekatinya lalu duduk di sebelahnya, sambil menawarkan anggur Nora berkata “Siapa namamu? aku hanya melihatmu beberapa bulan sekali di kota ini, apakah kau seorang pedagang keliling?” Jimi terdiam, dia merasa bahwa ini hanyalah mimpi sampai Nora berkata kembali kali ini dengan nada yang sedikit tinggi “Hei! Mengapa kau diam?”, Jimi pun tersenyum sambil tangannya memetik beberapa buah anggur dari tangkai yang Nora pegang, “Aku Jimi, datang dari kota yang jaraknya kira-kira 2 hari di selatan, ya, aku seorang pedagang, adakah yang nona mau beli dariku?” Katanya sambil membuka tas dan mengeluarkan beberapa barang yang ia jual.
Matahari mulai tenggelam, tawa dan canda telah tercipta di antara dua makhluk yang indah itu, “Aku harus pulang, berapa harga parfum ini?” tanya Nora sambil mengangkat sebotol parfum berwarna ungu, “Apakah kau menyukainya?” Tanya Jimi, Nora pun menganggukkan kepalanya dengan senyum yang teramat manis berkembang di wajahnya, memberi jawaban bahwa ia sangat menyukainya. “Kau telah membayarnya tadi, pulanglah, parfum itu milikmu sekarang” “Sudah membayarnya? Aku tak membayar apapun sejak pertama aku bicara padamu, ayolah, berapa?” “Dua buah anggur yang teramat manis dan tawa canda yang melepaskan kelelahanku hari ini setelah perjalanan jauh, itu harga parfumnya” Kata Jimi lalu mereka pun tertawa bersama, “Terima kasih, tetapi tunggulah sebentar disini, aku akan kembali.” Kata Nora sambil berlari ke arah rumahnya dengan sebotol parfum di tangannya, tak lama ia kembali membawa sebungkus Roti, “ini untuk mu, harga untuk melepaskan kesepianku”. Dan malam memisahkan mereka pada hari ini, dan hari-hari setelahnya.
“Kau akan pergi ke kota lain hari ini?” Tanya Nora, “Tentu, Tidakkah tiga hari sudah terlalu lama, dan barang yang kujual di kota ini pun habis, aku telah membeli barang dari kota ini dan akan menjualnya lagi di kota lain.” “Akankah kau kembali? Bagaimana jika parfumku habis?” “Aku akan kembali satu bulan lagi, dan membawa parfum yang kau suka”. Kereta yang mengangkut Jimi pun berjalan, lambaian tangannya pun semakin menjauh, dan Nora pun kembali ke rumahnya, dengan kesepian lagi.
Bulan demi bulan berlalu, dan perasaan cinta mulai tumbuh seiring kali Nora menyusun botol-botol parfumnya yang telah kosong di dalam lemari kaca di kamarnya, “ini adalah botol keduapuluh tujuh” kata Nora sambil tersenyum sendirian sambil membayangkan esok Jimi akan datang mengusir kesepiannya sambil membawakan sebotol Parfum yang dinantikannya. Hampir setiap malam sebelum kedatangan Jimi, Nora selalu tak bisa memejamkan matanya hingga malam melarut, yang ada di bayangannya adalah senyum anak laki-laki petualang itu, ia tak mengerti apa yang sedang dirasakannya, yang ia tahu hanyalah bahwa ia sedang menanti rasa bahagia.
Seperti biasa, sehabis mandi, ia menyisir rambutnya di depan jendela kamarnya sambil menatap keluar, dan tak lama kemudian apa yang dinantikannya datang, Jimi.. Ya Jimi datang. Nora bergegas menghampiri Jimi yang sedang duduk di bangku panjang di depan rumahnya, Jimi pun tersenyum sambil mengeluarkan sebotol parfum, tapi kali ini Nora tak hanya menantikan parfum, kini ia merasa juga menantikan Jimi, ya, hatinya kini telah penuh dengan Jimi, ia ingin semua orang tahu bahwa ia dan Jimi adalah orang dekat, lebih dari teman, “Jimi, kini aku tak merindukan parfummu lagi” kata Nora, dan mendadak senyum jimi memutar 180 derajat, “lalu mengapa kau menghampiriku dengan tatapan dan senyummu yang teramat manis ini?” “Aku tak merindukan perfum itu seperti aku yang sangat merindukan parfum itu waktu lalu, kini aku lebih merindukan kehadiranmu disini” Kata Nora diiringi Jimi yang tertawa, Mereka pun bercanda hingga seperti biasa, malam menjadi pengakhir dari kebahagiaan ini.
“Tidakkah kau berkata bahwa ini hampir gelap dan kau harus segera pulang, Nora?” Kata jimi, “Mau kah kau ikut denganku pulang? Dan memperkanalkan dirimu pada orangtuaku?” Nora menumpukkan tangannya yang kiri di atas tangan jimi yang menggenggam tangan kanannya. Jimi menatap Nora dalam, tak ada keraguan dari matanya, dan itu membuatnya yakin, kemudia Nora masuk ke rumahnya, dan Jimi pun mengikuti, Nora memperkenalkan Jimi pada kedua orangtuanya, mereka makan malam bersama-sama.
Namun, ada sesuatu yang terlihat tidak seperti seharusnya disini, Jimi merasa Ayah Nora tak menyukainya, tidak seperti ibunya yang bersikap ramah padanya, Pria dewasa itu tak menunjukkan sedikit pun senyum padanya, ia merasa bahwa ini adalah sebuah kesalahan, memang seharusnya ia tak berada disini, di tempat yang lebih tinggi dari kehidupannya. Suasana masih terasa baik-baik saja sampai pada saat Ayah Nora bertanya “Adakah maksud tertentu kau mendekati putriku? Lebih cakkah ia dari hartaku?” seketika semua berhenti menikmati makanannya, kedua wanita yang ada disana saling menatap dan menatap wajah-wajah dua prianya. “Kiranya semua yang kulakukan ini hanya untuk melepas lelah dari perjalanan jauh, namun cinta menghampiri kami, sampai pada saat ini, dan prasangka buruk memukulnya, hingga kini cinta berdarah. Maaf, tuan, tidakkah pantas bagi seorang pedagang kecil yang tak mempunyai apa-apa menikmati makan malamnya di atas meja yang sama dengan saudagar kaya bersama keluarganya.” “Pantaskah? Kau mengerti anak muda, maka ikutilah hatimu.” “Selamat malam, terima kasih.” Kata Jimi sambil bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan seorang pembunuh yang membunuh semua perasaannya dan dua orang yang bersedih karena menyaksikan drama.
Keesokan harinya, ketika Jimi sedang menawarkan barang dagangannya, datanglah Nora, kali ini bukan senyum yang berkembang di wajahnya, namun air mata yang membasahinya. Jimi pun menghentikan apa yang telah dilakukannya, ia mengajak nora untuk duduk di sampingnya, “Jimi, maafkanlah ayahku, ia hanya terlalu takut untuk melepas anaknya, yakinkanlah ia, dan kita bisa bersama-sama, seperti janji-janji yang telah kita buat, bukankah kau kita pernah berjanji akan bersama-sama?” Tangan nora menggenggam erat tangan kekasihnya itu, begitupun sebaliknya, “Janji dan mimpi ini terlalu manis, kekasih, kita akan tetap bersama, terperangkap dalam perasaan cinta yang sama, dimana hanya ada kau dan aku disana, tapi biarkan raga ini hidup seperti seharusnya, kau jauh terbang tinggi, dan aku akan tetap berenang di bawah”. Lagi-lagi malam memisahkan mereka.
“Bukankah baru dua hari kau berada disini? Mengapa kau ingin pergi lagi? Kulihat barang-barangmu masih penuh, hanya sedikit yang terjual kemarin karena aku mengganggumu, maafkanlah.” Kata Nora sambil melihat Jimi yang sedang mengemasi barangnya. “Kau tak perlu meminta maaf, kau tak akan menggangguku lagi, begitupun sebaliknya.” “Maksudmu? Apakah kau akan kembali?” tiba-tiba suara seorang pria dewasa yang tak asing hadir di tengah pembicaraan mereka, “Biarkan dia pergi putriku, biarkan ia mencari kekayaannya, dan kau anak muda, kembalilah jika kau sudah merasa setara denganku, maka tak ada lagi keraguan dan penghalang atas perasaan cintamu pada putriku.” Kata Ayah Nora. “Tuan, jagalah putrimu, jangan biarkan ada cinta yang padam lagi karenanya, aku akan kembali seperti katamu suatu hari nanti” Kata Jimi, “Dan ini untukmu, Noraku, kau tak perlu lagi merindukanku atau parfumku, letakkan saja batu itu pada sakumu, terima kasih.” Jimi pun bergegas masuk ke dalam keretanya, ia tersenyum, tapi tak ada yang membalasnya kecuali air mata.
“Hari ini Jimi pasti datang, bu, percayalah.” Kata Nora pada ibunya sambil terus menatap keluar jendela, mereka berdua terus menanti, namun sampai senja datang, seorang yang dinanti tak kunjung datang. “Nora, ayolah kita makan malam, mungkin esok hari Jimi datang, mungkin ia terlambat.” Kata Ibunya, Nora pun mengikutinya, namun keesokkan harinya tak ada yang berbeda, tak ada yang datang merindukannya, dan mulai hari itu semuanya terasa seperti saat lemari di kamarnya masih kosong, tanpa botol-botol indah yang menghiasinya, ia kehilangan bunga senyumnya, tawanya, candanya, juga separuh dari dirinya.
Sepanjang hari hanya ada kerinduan yang membuat setiap pergeseran matahari terasa begitu perih, kini botol-botol parfum yang telah kosong itu mulai berdebu, Nora tetap tak bisa beranjak dari perasaan ditinggalkan, tetapi ia percaya bahwa Jimi juga merasakan sakit ini, bahkan mungkin Jimilah yang lebih terluka, penghinaan yang secara tidak langsung itu adalah yang lebih menyakitkan dari pukulan seorang ahli bela diri atas sayatan pedang seorang ksatria, perasaan direndahkan yang membuat seekor burung yang terbang terjatuh karena angin kencang yang mematahkan sayap-sayapnya diudara.
“Harusnya sudah ada duapuluh satu botol kosong lagi yang aku pajang disini, tapi tak ada sekarang, dan aku masih tetap merindukannya.” Kata Nora berbicara pada lemari kacanya, di tengah kerinduannya, ia mendengar ribut-ribut di luar, Nora melihat ke luar jendela, Seekor kuda yang menarik kereta yang tampak mewah berjalan memasuki kota, mata orang-orang di sekitar tertuju pada benda itu, kuda itu berhenti di sebuah rumah makan di depan rumahnya, tak lama kemudian, seorang laki-laki dengan berpakaian bagai seorang kaya turun dari kereta itu, Nora kaget, orang itu tak asing baginya, hanya sekarang ia terlihat lebih bersih, rapih, dan sangat tampan. Itu Jimi.
Ia segera menghampiri ayahnya, dan berkata apa yang terjadi di luar, ayahnya sungguh tak percaya dan menduga bahwa apa yang dilihat putrinya itu adalah orang lain. Bersama putrinya segera ia pergi menuju rumah makan yang dimaksud, alangkah terkejutnya ia kini, melihat Jimi yang tampak seperti saat ia muda dulu, bahkan Jimi lebih terlihat menawan dibanding dirinya. Jimi sedang mengantarkan barang pesanan yang dipesan pemilik rumah makan itu yang juga seorang yang kaya raya, ia memesan sebuah patung emas yang sangat mahal. Setelah itu Nora dan ayahnya menghampiri Jimi, Jimi pun tersenyum, dan menyapa mereka dengan sangat ramah, lalu Ayah Nora mengajak Jimi untuk makan malam bersama dirumahnya, tentu saja Jimi menerimanya.
Di meja makan mereka berbincang-bincang tentang apa yang membuat Jimi bisa menjadi seperti sekarang, Jimi menceritakan bahwa tak ada yang luar biasa, ia hanya menjalani hari-harinya, mungkin tuhanlah yang lebih tahu mengapa ia bisa seperti ini sekarang, di tengah perbincangan mereka, Ayah Nora kembali membuat semua orang yang makan di meja itu terdiam, persis seperti malam kemarin ketika pertama kali Jimi duduk di kursi yang sama, Pria itu berkata “Sekrang anak muda, kini kursimu lebih tinggi dariku, dan kini kau berhak mendapatkan apa yang ada di bawahmu, maka ungkapkanlah apa yang kau ungkapkan kemarin, dan milikilah apa yang ingin kau miliki.” Semua orang terdiam, terlihat di wajan Nora, senyuman kecil tak lepas yang bergetar tetapi masih nampak manis seperti anggur dari tangan putri saudagar kaya.
“Tuan, tidakkah kau merasa kau masih tetap setinggi apa yang lebih tinggi dariku, maka jagalah apa yang kau miliki, dan biarkan ketakutanmu tetap memeluknya erat, karena saat ini aku telah diterima orang yang mampu menerimaku apa adanya, yang kini memilik kesusahanku dan menikmati kesenanganku, jikalau tuan merasa tak pantas aku duduk disini lalu berbicara seperti itu, maka ungkapkanlah.” Kata Jimi, dan semuanya terdiam, seketika senyuman di wajah Nora menghilang bagai kabut yang disiram hujan, “Maukah kau terima apa yang ku beri walau harus aku memohon?” “Tuan tak perlu memohon, berdirilah dengan lantang, jagalah apa yang tuan takutkan.” Setelah itu Jimi bangkit dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan tiga orang dalam kesedihan.
Sejak saat itu, tak ada cahaya dalam hati Nora, tak ada yang bisa menghentikan darah yang mengalir dari lukanya, kepedihan ditinggalkan memang tak lebih pedih dari kepedihan direndahkan dan dihina, tetapi kepedihan ditinggalkan akan lebih lama dan abadi dari segalanya sampai ada seseorang yang menerima apa adanya, sementara kepedihan direndahkan dan dihina akan bangkit dan menggapai cahaya.
Cerpen Karangan: Zikri Ari Santoso
Blog: Jipozipo.blogspot.com
Nama: Zikri Ari Santoso
Tempat dan Tanggal Lahir: Jakarta, 8 Juli 1995
Twitter: @jipozipo
E-mail: zikri.santoso13[-at-]gmail.com
Penulis Cerpen ulat anggur dan mawar putih

No comments:

Post a Comment

Enter your email address

Jika Sobat menyukai artikel Blog ini, masukan alamat email Sobat untuk mendapatkan posting terbaru dari saya langsung ke email sobat.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Penghasilan Saya Rp 28 Juta/bulan, Modal 105.000, Gabung Sekarang juga!
Mau Sukses Bisnis Online di Internet? Harus tau caranya. Segera gabung disini...

Please Bantu Saya, Like This !!!

×

Powered By Blogger Widget and Get This Widget